Monthly Archives: November 2018

Triwulan III 2018, Pertumbuhan Ekonomi Papua 6,76 Persen

Kepala Bidang Nerwilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, Eko Mardiana mengatakan, periode triwulan III 2018, ekonomi Papua mengalami pertumbuhan sebesar 6,76 persen dibanding triwulan III 2017 (y-on-y).

Pertumbuhan itu didukung semua lapangan usaha. Namunpertumbuhan itu melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 24,90 persen di triwulan II 2018.

Sedangkan pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha jasa lainnya sebesar 9,53 persen, diikuti pertambangan dan penggalian yang tumbuh sebesar 9,63 persen, dan jasa perusahaan yang tumbuh sebesar 7,99 persen.

“Pertumbuhan yang besar pada lapangan usaha jasa lainnya ini terutama disebabkan meningkatnya pendapatan usaha yang berkaitan dengan kegiatan hiburan dan rekreasi,” ujar Mardiana, Senin, 5 November 2018.

Menurut Mardiana, bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Papua triwulan III tahun 2018 (y-on-y), lapangan usaha pertambangan dan penggalihan memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 4,26 persen, diikuti lapangan usaha konstruksi sebesar 0,55 persen.

“Lapangan usaha pertambangan dan penggalian, konstruksi dan pertanian, kehutanan dan perikanan, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib masih mendominasi PDRB Papua,” tambah Mardiana.

“Ekonomi Papua sampai triwulan III-2018 dibanding ekonomi sampai triwulan III-2017 (c-to-c) masih tumbuh tinggi, yaitu18,34 persen dan pertumbuhan ini terjadi pada semua lapangan usaha,” jelas Mardiana.
sumber : klik disini

Peluang Bisnis Menggiurkan Berskala Internasional dari Kota Timika, Tanah Papua

Kota Timika ternyata menyimpan berbagai cerita menarik. Bukan hanya cerita barang tambangnya yang terkenal sampai di belahan negara Amerika sana atau kebudayaan unik dari Suku Kamoro dan Amungme yang diminati para wisatawan mancanegara tetapi ada hal yang belum banyak dipublikasikan dari Timika khusunya mengenai kekayaan alam dan kreasi masyarakatnya yang berpotensi menjadi ladang bisnis bercitarasa internasional. Apa sajakah itu? Mari kita bahas satu-persatu:

1. Karaka

Salah satu komoditi unggulan lokal dari daerah ini adalah kepiting hitam atau biasa disebut karaka. Karaka itu sejenis kepiting ukuran besar, memiliki cangkang yang lumayan keras, dagingnya tebal dengan citarasa yang manis alami. Hewan ini bisa dijumpai di kawasan pedalaman hutan bakau pesisir pantai.

Tak hanya rasanya yang maknyuss tapi juga kandungan gizinya yang tinggi (Omega 3), rendah lemak, dan mengandung antioksidan. Dipercaya bisa mengobati penyakit kanker, meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan bisa terlihat awet muda. Tak salah jika karaka menjadi salah satu primadona sajian kepiting di resto-resto ternama di Indonesia.

Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan bahkan mendorong Kabupaten Mimika, Provinsi Papua agar dapat mengekspor kepiting ke berbagai daerah Indonesia dan ke sejumlah negara tetangga. Pada akhirnya, hampir setiap hari komoditas kepiting dari Timika diangkut ke Jakarta, Denpasar dan Surabaya, Malaysia hingga ke Australia.

Dari data Dinas Kelautan dan Perikanan Mimika, pengiriman kepiting dari Bandara Mozes Kilangin Timika ke Surabaya setiap hari sekitar 500 hingga 1.000 Kg. Adapun harganya sekitar 100-200 ribu/Kg (3-4 buah kepiting).

2. Sarang semut

Kota Timika ternyata menyimpan berbagai cerita menarik. Bukan hanya cerita barang tambangnya yang terkenal sampai di belahan negara Amerika sana atau kebudayaan unik dari Suku Kamoro dan Amungme yang diminati para wisatawan mancanegara tetapi ada hal yang belum banyak dipublikasikan dari Timika khusunya mengenai kekayaan alam dan kreasi masyarakatnya yang berpotensi menjadi ladang bisnis bercitarasa internasional. Apa sajakah itu? Mari kita bahas satu-persatu:

1. Karaka

Dok:Jitunews.Com
Dok:Jitunews.Com

Salah satu komoditi unggulan lokal dari daerah ini adalah kepiting hitam atau biasa disebut karaka. Karaka itu sejenis kepiting ukuran besar, memiliki cangkang yang lumayan keras, dagingnya tebal dengan citarasa yang manis alami. Hewan ini bisa dijumpai di kawasan pedalaman hutan bakau pesisir pantai.

Tak hanya rasanya yang maknyuss tapi juga kandungan gizinya yang tinggi (Omega 3), rendah lemak, dan mengandung antioksidan. Dipercaya bisa mengobati penyakit kanker, meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan bisa terlihat awet muda. Tak salah jika karaka menjadi salah satu primadona sajian kepiting di resto-resto ternama di Indonesia.

Dok: BKIPM Jayapura Twitter
Dok: BKIPM Jayapura Twitter

Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan bahkan mendorong Kabupaten Mimika, Provinsi Papua agar dapat mengekspor kepiting ke berbagai daerah Indonesia dan ke sejumlah negara tetangga. Pada akhirnya, hampir setiap hari komoditas kepiting dari Timika diangkut ke Jakarta, Denpasar dan Surabaya, Malaysia hingga ke Australia.

Dari data Dinas Kelautan dan Perikanan Mimika, pengiriman kepiting dari Bandara Mozes Kilangin Timika ke Surabaya setiap hari sekitar 500 hingga 1.000 Kg. Adapun harganya sekitar 100-200 ribu/Kg (3-4 buah kepiting).

2. Sarang semut

Dok: Pribadi
Dok: Pribadi

Mungkin dalam pikiran teman-teman sarang semut adalah bangunan yang dibangun oleh kumpulan semut. Tapi ternyata eh ternyata, sarang semut adalah sejenis tanaman. Adapun sejarahnya yaitu karena tanaman ini menumpang pada tanaman lainnya (epifit) yang mana umbinya dihuni oleh semut. Sarang semut biasanya tumbuh pada dahan atau batang tumbuhan dan banyak ditemukan di Papua.

Segudang manfaat yang bisa diperoleh dari tanaman ini utamanya mengobati penyakit-penyakit maut seperti kanker, tumor, jantung, stroke, TBC. Tak hanya itu tanaman ini bisa meredakan penyakit ringan seperti wasir, sakit kepala sebelah, rematik, pegal linu, dan bisa meningkatkan gairah seksual.

Spesialnya juga, tanaman ini dipercaya bisa mengembalikan resistensi multi-obat dimana kandungan Flavonoid dalam tanaman ini bisamembantu tubuh terhindar dari resistensi / kebal terhadap obat-obat yang dikonsumsi.

Mengingat saat ini orang kembali mengandalkan obat-obatan dari alam karena efek sampingnya rendah, maka potensi bisnis ini menjanjikan. Namun sayangnya, belum banyak yang berani memasarkannya di pasar internasional. Saat ini hanya ada segelintir pengusaha saja yang berani mengekspornya sepertu di Singapura, Malaysia, Jerman, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat.

3. Kopi Amungme

Pada awalnya, kopi Amungme ini hanya dikhususkan bagi kalangan ekspatriat di kawasan Tembagapura, namun karena rasanya yang berbeda dengan kopi-kopi yang ada maka hal ini membuat masyakat ingin menikmatinya juga.

Amungme Gold kopi diproduksi di daerah dataran tinggi Mimika areal pertambangan PT Freeport Indonesia. Kopi Amungme ini ditanam di ketinggian 2.500 mdpl pada sejumlah kampung yaitu Kampung Oroanop, Tsinga, Hoya, dan Kampung Banti. Tanaman kopi dipupuk dengan tanaman bernitrogen serta material kompos dan multus hutan alami yang pada akhirnya membuat rasanya khas. Rasanya agak sedikit asam dengan rasa moka.

Berita Kopi Amungme Yang Tembus ke Luar Negeri
Berita Kopi Amungme Yang Tembus ke Luar Negeri

Kopi Amungme Gold mampu menembus pasar internasional karena sudah tersebar di beberapa negara terutama di Amerika Serikat. Gerai kopi internasional, Starbucks, bahkan mau mengadakan kerjasama tapi karena jumlahnya terbatas sehingga belum merata tersebar di gerainya secara merata.

Tak hanya itu, kopi ini sudah diakui oleh salah satu organisasi yang bergerak di bidang produksi makanan organik yaitu CERES karena cita rasanya berbeda dengan kopi-kopi yang pernah ada.

4. Buah Merah

Dok: Nulis.Co.Id
Dok: Nulis.Co.Id

Buah merah atau kuansu adalah buah yang tumbuh di wilayah Papua termasuk di Timika. Buah merah biasanya dikonsumsi dengan cara dimakan langsung atau dipotong-potong lalu direbus, dipanggang, atau dimasak dalam oven batu.

Dari hasil penelitian, buah ini dipercaya mampu mengobati penyakit termasuk penyakit yang hingga sekarang susah diobati dengan obat kimiawi. Hal inilah yang membuatnya diincar oleh negara-negara di dunia. Khasiatnya dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti penyakit HIV/AIDS.

Di mana tokoferol dan betakarotennya dapat berperan sebagai antioksidan guna meningkatkan kekebalan tubuh, kanker dan tumor di mana tokoferolnya dapat juga berperan sebagai antioksidan untuk kekebalan tubuh, penyakit stroke dan tekanan darah di mana kandungan tokoferal dapat mengencerkan darah dan membuat sirkulasi darah normal kembali, penyakit diabetes mellitus di mana kandungan tokoferol dapat membantu kerja pankreas sehingga fungsi pankreas dapat kembali normal, dan masih banyak lagi penyakit-penyakit yang dapat disembuhkan oleh buah kansu ini.

Selain menyembuhkan berbagai macam penyakit, buah merah ini juga diyakini dapat meningkatkan kesuburan karena kandungan vitamin E-nya yang sangat tinggi sehingga dapat membantu meningkatkan gairah serta vitalitas fisik sepanjang hari.

Karena kekayaan khasiatnya itulah banyak masyarakat mancanegara mengincar buah merah Papua ini yang lantas kerap digunakan untuk obat-obatan dan juga penelitian. Pengolahan buah ini banyak diekspor ke berbagai negara di kawasan Asia, Eropa, bahkan sampai Afrika

5. Noken

Noken. Dok:Pribadi
Noken. Dok:Pribadi

Noken adalah sejenis tas tradisional Papua yang terbuat dari kulit kayu atau serat kulit kayu pohon yang elastis dan kuat. Tas ini dibentuk dengan sistem anyam atau rajut. Bentuk rajutan Noken biasanya berbentuk jaring dan digunakan oleh masyarakat untuk membawa barang dengan mengaitkan tali ikatan Noken di kepala mereka, sedangkan barang bawaanya diletakkan di bagian belakang. Benda ini multifungsi karena bisa digunakan untuk mengangkut berbagai barang seperti ubi, sayur mayur, kayu, babi, menggendong anak.

Uniknya, tas ini mendapat pengakuan internasional dari UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia. Pada akhirnya masyarakat di belahan dunia meminati benda ini sehingga sudah ada beberapa pengusaha yang mengekspornya.

Dok:Pribadi
Dok:Pribadi

Saya memperhatikan bahwa penjualan hasil kerajinan tangan dari Mimika terutama tas noken dijual terbatas. Sulit menemukan penjualannya yang mempergunakan layanan E-Commerce dalam memasarkan produknya.

Coba saja deh, cari tas noken di internet, susah banget dapatnya. Berawal dari hal ini maka muncul ide untuk menggalakkan kegiatan bisnis memanfatkan situs E-Commerce dengan cara mengadopsi aplikasi atau numpang di Bukalapak, Tokopedia, dan OLX.

Tak hanya itu. dengan adanya layanan E-Business Dan E-Commerce maka akan mendorong tingkat perekonomian masyarakat, peningkatan penyerapan angkatan kerja,dan memberdayakan ekonomi masyararakat melalui pengembangan ekonomi berbasis industri kreatif.

 

sumber : klik  disini

 

Bisnis Gelap Merbau Papua

Dini hari, udara dingin, kabut masih tebal dan matahari belum ada. Kendaraan truk bermuatan beberapa ton kayu merbau, bergerak menelusuri jalan tanah berlumpur. Kadang truk tertahan beberapa saat berkubang dalam lumpur, mesin meraung-raung dan roda karet bergesekan dengan tanah.

Rimba Klasow (Sorong) tidak lagi senyap pagi itu, kicauan burung bersahut-sahutan memamerkan suara, bersaing dengan suara monoton mesin truk. Bau aroma tanah yang lembab tidak lagi khas, bau gesekan roda karet dan asap bercampur minyak mencemari udara pagi.

Pada beberapa ruas jalan beraspal, truk tetap berjalan perlahan, tertatih dan tertekan menahan beban ditanjakkan maupun penurunan bukit, bak truk bergetar pada jalan berkelok-kelok.

Saya bersama dua warga kampung dan dua buruh pikul, duduk diatas bantalan balok kayu merbau, beralas karton tebal dan sarung menyelimuti hampir seluruh badan, berkukuh menahan angin dingin. Hanya bagian wajah terbuka, kami bisa bebas merokok dan bergurau melewati pagi.

Dalam truk, sopir ditemani mandor duduk tidak akur, pantat saling membelakangi. Mata sopir awas pada jalan dan tebing bukit. Sesekali sopir bercanda dengan kernetmerangkap buruh pikul, “kamorang tahan dingin ee”, canda sopir dan tertawa besar.

Kami semua tertawa dan saling mengangkat kening. Buruh pikul selalu turut didepan sopir dan mandor, kecuali saat dibelakang dan tak terlihat. Menjadi penurut bukan untuk dikasihani, tetapi karena ketidakbebasan, keterpaksaan untuk membuat rayuan dan kesetiaan, agar terus dapat bekerja dan mendapatkan upah. Kalau apes dan tidak cocok, terpaksa pindah bos, pindah sopir, pindah tuan baru, asal martabat tidak direndahkan menjadi budak (slavery modern).

Pekerjaan Kernet bertahun-tahun dilakukan dan bahkan diwariskan. Ini bukan takdir. Sewaktu datang ke Sorong dari Tanah Jawa, orang tua sudah bekerja sebagai sopir dan terkadang turun pangkat menjadi kernet. Pendidikan anak tidak terurus dan dipaksa membantu ‘menjadi buruh’ tambahan. Upah sopir, kernet dan buruh tambahan, tidak pernah mencukupi kebutuhan keluarga untuk hidup layak, hidup sehat, hidup sejahtera dan berpengetahuan yang cukup. Upah ditentukan sesuka pemberi upah, kadang tidak sesuai dengan standar upah pemerintah.

Angka statistik Indeks Pembangunan Manusia selalu mencatat dan berubah setiap tahun, tetapi angka-angka ini belum mengakhiri realitas kemiskinan dan kesenjangan pendapatan yang semakin lebar. Buruh dan rakyat kecil semakin miskin, sedangkan tuan pemilik modal, pemilik industri kayu, semakin kaya dan terus bebas menggandakan keuntungannya dari industri keruk dan jasa. BPS baru saja mengumumkan angka kemiskinan di kedua provinsi Papua dan Papua Barat secara nasional masih berada diperingkat pertama dan kedua. Lihat: Papua Barat Terbesar Kedua Tingkat Kemiskinan Papua Peringkat Satu

Menjadi sopir dan kernet truk pengangkut kayu merbau, masih mending dan mampu memenuhi kebutuhan tertentu beberapa saat. Masuk keluar kampung dipinggiran hutan, bisa membawa pulang daging hewan buruan, singkong, keladi, pisang, sayur-sayuran dari hutan dan kebun warga Suku Moi. Kalau ada sedikit modal plus kemampuan ‘jual suara’ (merayu), bisa tukar modal plus itu dengan ayam kampung dan jual di Kota Sorong dengan keuntungan yang berlipat.

***

Fajar pagi baru kelihatan ketika truk kami tiba dipinggiran kota. Mandor duduk gelisah dan berkali-kali menelan asap rokok kretek Dji Sam Soe, sangat dalam dan mengeluarkan perlahan. Entah apa yang mereka bicarakan dengan sopir. Kepala mandor semakin sering menjulur keluar jendela, menengok kedepan dan belakang.

Pekerjaan Mandor tidak mudah, seperti mengatur dan mengawasi operator penebang dan pembelah kayu sesuai dengan kebutuhan pasar, bertanggung jawab memastikan kelancaran proses pengakutan dari hutan hingga perjalanan ke tempat industri pengolahan kayu. Mandor mesti punya kecakapan dan siasat ketika berhadapan dengan warga yang menuntut hak dan fee atas kayu, kemampuan ‘ngeyel’ dan meluluhkan ketegasan petugas jagawana dan oknum atas nama aparatus institusi keamanan tertentu. Diluar target perhitungan, bisa jadi mandor yang menanggung beban ongkos japre (semacam komisi illegal untuk kemudahan) dan jika beruntung minim tanggungan, dana japre bisa dialihkan menambah kocek sendiri dan bos pemodal seolah-olah tidak acuh.

Depan ‘Pos Kehutanan’ Bambu Kuning, begitu kami menyebutnya, seorang petugas jagawana mencegat truk kami. Mandor turun dan menjawab beberapa pertanyaan jagawana. Kedengaran keluhan garing, basa basi, seolah-olah taat prosedural.

“Surat-surat ini tidak lengkap dan sudah tidak berlaku, sudah mati”, ungkap jagawana mengunci.

“Jadi bagaimana, pak”

“Ko urus, lengkapi to”, sambil memeriksa kertas dokumen lagi.

Petugas jagawana lain, menonton saja dari Pos diseberang jalan dengan wajah tegang. Mungkin truk tumpangan kami bukan yang pertama, sudah ada beberapa didepan dan akan ada lagi dibelakang. Mereka bertugas bergantian menjalankan seremoni pemeriksaan basa basi.

“Jalan sudah, kase tahu ko pung bos, saya ke rumah bos nanti malam,” kata Jagawana, sambil menyambut uluran tangan mandor.

Janji ketemuan dan sharing beberapa bungkus rokok Gudang Garam meloloskan kendaraan truk dan lima kubik kayu merbau dari sangsi hukum. Saya mendengar didaerah Sorong Selatan, Mandor mengeluarkan uang japre bervariasi Rp. 100.000,- sampai Rp. 200.000, pada setiap pos secara berkala. Angkanya masih belum merugikan kocek pengolah, pemilik dan pedagang pembeli kayu, dibandingkan keuntungan bisnis dan terhindar resiko hukuman.

Kayu Merbau dalam pusaran jaringan perdagangan gelap dan sulit diungkap. Meskipun sudah jelas aktor perambah hutan, pembawa, pemasok dan pemilik industri pengolahan kayu merbau yang bersumber dari praktik illegal. Terlihat juga walau samar, oknum aparatus tertentu yang mengawal dan mengamankan perjalanan kayu dari pinggiran hutan hingga ke industri pengolahan. Pemberitaan, kesaksian dan cerita hanya menjadi buah bibir publik.

Kayu hasil perambahan dari hutan milik masyarakat masih terus keluar dari hutan, tanpa ijin atau dokumen Aspal (asli tapi palsu), dibawa ke tempat pengolahan, lalu diperdagangkan dengan cara melawan hukum dan merugikan negara, tapi jeratan dan penegakan hukum masih lemah. Dalam beberapa kasus kejahatan kehutanan, diketahui barang bukti hilang dan belum terungkap. Lihat: Misterius: 3 Kontainer Barang Bukti Kayu Merbau Di Pelabuhan Lenyap

Ada enam modus kejahatan kehutanan dan tantangan penegakan hukum (KPK, 2018), yakni: tindak pidana dalam jabatan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum, pemalsuan dan penyalahgunaan dokumen, perizinan alih fungsi kawasan, pengusaan dan pemanfaatan hutan secara tidak sah, justifikasi dan mobilisasi kelompok masyarakat untuk kepentingan tertentu, serta menghalang-halangi proses hukum.

***

Masyarakat adat Moi pemilik kawasan hutan di Klasow, tidak diuntungkan dari bisnis gelap ini. Tidak seperti nama, kwalitas dan nilai ekonomi merbau, yang terdengar eksklusif dan komersial menguntungkan.

Pemilik modal dan orang-orang tertentu mendatangi warga pemilik kawasan hutan, meminta diberikan restu mengolah kayu merbau, lalu mereka menawarkan uang kompensasi dan fasilitas seperti kendaraan motor, serta hadiah tertentu. Biasanya kompensasi diberikan Rp. 500.000 per kubik kayu, namun masyarakat pemilik tidak pernah mengetahui dan mengawasi jumlah kubikasi kayu merbau yang ditebang. Masyarakat menunggu saja pemberian dana kompensasi dan hadiah lainnya. Mereka juga menanggung resiko hukum, jaminan perusahaan dan menanggung resiko bencana ekologi.

Sedangkan perusahaan diuntungkan dari selisih pelaporan jumlah kubikasi kayu merbau, jumlah yang ditebang berbeda daripada yang dilaporkan. Kompensasi berkurang dan keuntungan pengusaha semakin besar. Pengusaha juga mendapatkan keuntungan dari harga jual balok kayu merbau. Harga di pasar lokal mencapai Rp. 4.200.000.-, pengusaha akan mengambil keuntungan lebih dari separuh dari harga jual setelah dipotong dengan pengeluaran dan biaya japre yang tak terduga.

Karena alasan ketidakadilan dalam pembagian manfaat, resiko bencana dan kerusakan lingkungan, Ketua LMA Malamoi, Silas Kalami, mengungkapkan dalam sebuah forum diskusi di Sorong (Juli 2018), “Kita mendesak ada kebijakan untuk mengatur dan menghentikan perdagangan kayu merbau illegal ini, agar lingkungan lestari dan masyarakat sejahtera”, minta Silas Kalami.

Apakah ide kebijakan ini bisa mendatangkan terang dan keadilan? Semoga.

 

sumber : klik disini