ARTIKEL

Masalah Di Papua Bukan Hanya Ekonomi Dan Pembangunan

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melihat dua pasangan calon presiden tidak punya ketertarikan dengan masalah pelanggaran hak asasi manusia di Papua.

Demikian disampaikan peneliti LIPI Aisyah Putri Budiatri dalam diskusi bertema ‘Menyoal Papua dalam Pilpres 2019: Posisi Papua di Peta Politik Indonesia’ yang digelar di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (14/2).

“Kok tidak ada sama sekali kata Papua ketika debat. Saya menduga, teman-teman bisa berpandangan juga, kedua paslon memiliki problem dengan isu pelanggaran HAM,” katanya.

Peneliti yang akrab disapa Puput itu mencontohkan, seperti halnya calon petahana Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang pernah menjanjikan penyelesaian pelanggaran HAM di Papua, namun hingga saat ini belum ada kejelasan. Termasuk kasus kekerasan di Kabupaten Nduga yang terjadi beberapa waktu lalu.

Puput memperkirakan, masalah Papua yang diangkat dalam Debat Pilpres 2019 putaran kedua nanti hanya dari sisi perekonomian, pembangunan, dan sumber daya alam. Daripada membahas isu pelanggaran HAM yang seolah-olah justru mengerdilkan Papua.

“Pandangan saya ini adalah upaya pengerdilan dan menunjukkan pemahaman isu yang terbatas tentang Papua. Seolah problem di Papua hanya problem ekonomi,” jelasnya.

LIPI sendiri menemukan empat akar masalah yang terjadi di Bumi Cenderawasih tidak hanya seputar pembangunan tetapi juga marjinalisasi, sejarah politik, dan pelanggaran HAM.

“Kita harus melihat (pelanggaran HAM) itu secara komprehensif. Sampai saat ini kita belum melihat hal itu,” tandas Puput.

 

sumber : klik disini

Jasa Raharja Serahkan Bantuan Kursi Roda dan Cruk untuk Korban Kecelakaan Lalu Lintas

PT Jasa Raharja Cabang Papua menyerahkan bantuan berupa kursi roda dan tongkat atau cruk untuk korban kecelakaan lalu lintas di jalan raya.

Penyerahan bantuan tersebut dilakukan dalam kegiatan Millenial Road Safety Festival 2019 yang diselenggarakan oleh Polda Papua, di halaman Kantor Gubernur Papua, Kota Jayapura, Sabtu (2/3/2019).

Penyerahan bantuan dari Kepala PT Jasa Raharja Cabang Papua, Marganti Sitinjak secara simbolis diterima oleh Kapolda Papua, Irjen Pol Drs. Martuani Sormin yang selanjutnya diserahkan kepada korban kecelakaan lalu lintas.

Sebelumnya, Marganti Sitinjak mengatakan usia terbesar dari korban yang mengajukan santuan yang telah diserahkan termasuk dalam kelompok usia produktif atau generasi millenial yakni usia 15 – 44 tahun mencapai 72,52 persen dari seluruh korban.

Tren ini, kata Marganti, terus saja meningkat dari tahun ke tahun dan merupakan suatu fenomena yang cukup mengkhawatirkan lantaran para korban merupakan generasi muda harapan bangsa dan merupakan tulang punggung keluarga.

Dalam upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas, Jasa Raharja Papua telah membangun sinergitas dengan Direktorat Lalu Lintas Polda Papua dan Polda Papua Barat untuk terus berupaya membangun kesadaran masyarakat terhadap berlalu lintas.

“Salah satu program Jasa Raharja adalah dengan memberikan sarana dan prasarana untuk mendukung operasional di jalan raya seperti traffic cone, barricade, sticker cone, senter, alat tes alcohol dan pembuatan rambu lalu lintas, dan juga untuk korban kecekalaan kami berikan kursi roda dan tongkat atau cruk, “imbuh Marganti.

Kapolda Papua, Irjen Pol Drs.Martuani Sormin menyampaikan berdasarkan informasi kecelakaan menyebabkan 2,1 juta jiwa meninggal dunia, di Provinsi Papua sekitar 300 ribu jiwa meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas, 60 persen diantaranya generasi muda .

“Oleh sebab itu sebagai instruksi Presiden, kita melaksanakan kegiatan Millenial Road Safety Festival 2019 agar tidak menjadi korban kecelakaan, “kata Kapolda. (Zulkifli)

sumber: klik disini

Pemberdayaan Nelayan Kamoro dan Pesisir Mimika buat Genjot Industri Perikanan Papua

Indonesia dinilai memiliki potensi sumber daya laut dan perairan yang besar, terutama perikanan seperti di Papua. Pemanfaatan hasil laut patut didorong, karena ini menjadi salah satu sumber pangan kaya protein yang dibutuhkan masyarakat Indonesia.

Ini dikatakan Manajer Community Economic Development PT Freeport Indonesia, Yohanes Bewahan. Perusahaan tambang ini memberdayakan nelayan suku Kamoro dan nelayan dari suku lain di pesisir kabupaten Mimika, dalam memanfaatkan hasil laut.

Ini tertuang dalam program community development Freeport Indonesia, yang dalam pelaksanaannya berkolaborasi dengan Koperasi Maria Bintang Laut (KMBL) yang bernaung di bawah Keuskupan Mimika dan Dinas Perikanan Kabupaten Mimika.

“Potensi perikanan di pesisir Kabupaten Mimika cukup tinggi, namun belum termanfaatkan secara penuh akibat kendala akses transportasi dan pasar, sarana produksi, dan rendahnya kapasitas tangkap. Inilah salah satu alasan kami dalam melalukan program pendampingan terhadap para nelayan yang ada di pesisir pantai Kabupaten Mimika,” ujar dia dalam keterangannya, Jumat (22/2/2019).

Dia menuturkan jika kolaborasi dalam pemberdayaan nelayan dan penguatan industri perikanan di Kabupaten Mimika secara terstruktur dimulai pada 2005. Sejumlah program yang dilaksanakan mencakup perikanan tangkap serta perikanan budidaya.

Menurut Yohanes, setelah beberapa tahun melakukan pendampingan dan kolaborasi dengan beberapa mitra, hasil tangkapan serta hasil budidaya para nelayan telah meningkat. Hal itu merujuk pada hasil rata-rata tangkapan puluhan nelayan yang berasal dari suku Kamoro ini ada di kisaran 1-4 ton ikan per bulan.

Namun dia berharap dukungan untuk pengembangan sektor perikanan ini harus dilakukan secara menyeluruh.

Salah satu nelayan yang mengikuti program pembinaan Daniel Bipuaro menceritakan bahwa pendampingan yang dilakukan sangat bermanfaat. Selain kemampuan dalam mencari ikan, para nelayan mendapatkan pengetahuan lain mengenai cara mengolah ikan hasil tangkapan agar nilainya meningkat.

“Kami tidak hanya dibantu untuk menangkap lebih banyak ikan, tapi kami juga diajari untuk mengolah hasil tangkapan agar bisa dijual di pasar dan harganya tinggi. Selain itu kami juga dilatih untuk mengelola keuangan keluarga agar kami tidak kesulitan,” tutur Daniel yang juga merupakan kepala kampung Ohotya di Mimika.

 

sumber : klik disini