KEUANGAN DAERAH

Peluang Bisnis Menggiurkan Berskala Internasional dari Kota Timika, Tanah Papua

Kota Timika ternyata menyimpan berbagai cerita menarik. Bukan hanya cerita barang tambangnya yang terkenal sampai di belahan negara Amerika sana atau kebudayaan unik dari Suku Kamoro dan Amungme yang diminati para wisatawan mancanegara tetapi ada hal yang belum banyak dipublikasikan dari Timika khusunya mengenai kekayaan alam dan kreasi masyarakatnya yang berpotensi menjadi ladang bisnis bercitarasa internasional. Apa sajakah itu? Mari kita bahas satu-persatu:

1. Karaka

Salah satu komoditi unggulan lokal dari daerah ini adalah kepiting hitam atau biasa disebut karaka. Karaka itu sejenis kepiting ukuran besar, memiliki cangkang yang lumayan keras, dagingnya tebal dengan citarasa yang manis alami. Hewan ini bisa dijumpai di kawasan pedalaman hutan bakau pesisir pantai.

Tak hanya rasanya yang maknyuss tapi juga kandungan gizinya yang tinggi (Omega 3), rendah lemak, dan mengandung antioksidan. Dipercaya bisa mengobati penyakit kanker, meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan bisa terlihat awet muda. Tak salah jika karaka menjadi salah satu primadona sajian kepiting di resto-resto ternama di Indonesia.

Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan bahkan mendorong Kabupaten Mimika, Provinsi Papua agar dapat mengekspor kepiting ke berbagai daerah Indonesia dan ke sejumlah negara tetangga. Pada akhirnya, hampir setiap hari komoditas kepiting dari Timika diangkut ke Jakarta, Denpasar dan Surabaya, Malaysia hingga ke Australia.

Dari data Dinas Kelautan dan Perikanan Mimika, pengiriman kepiting dari Bandara Mozes Kilangin Timika ke Surabaya setiap hari sekitar 500 hingga 1.000 Kg. Adapun harganya sekitar 100-200 ribu/Kg (3-4 buah kepiting).

2. Sarang semut

Kota Timika ternyata menyimpan berbagai cerita menarik. Bukan hanya cerita barang tambangnya yang terkenal sampai di belahan negara Amerika sana atau kebudayaan unik dari Suku Kamoro dan Amungme yang diminati para wisatawan mancanegara tetapi ada hal yang belum banyak dipublikasikan dari Timika khusunya mengenai kekayaan alam dan kreasi masyarakatnya yang berpotensi menjadi ladang bisnis bercitarasa internasional. Apa sajakah itu? Mari kita bahas satu-persatu:

1. Karaka

Dok:Jitunews.Com
Dok:Jitunews.Com

Salah satu komoditi unggulan lokal dari daerah ini adalah kepiting hitam atau biasa disebut karaka. Karaka itu sejenis kepiting ukuran besar, memiliki cangkang yang lumayan keras, dagingnya tebal dengan citarasa yang manis alami. Hewan ini bisa dijumpai di kawasan pedalaman hutan bakau pesisir pantai.

Tak hanya rasanya yang maknyuss tapi juga kandungan gizinya yang tinggi (Omega 3), rendah lemak, dan mengandung antioksidan. Dipercaya bisa mengobati penyakit kanker, meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan bisa terlihat awet muda. Tak salah jika karaka menjadi salah satu primadona sajian kepiting di resto-resto ternama di Indonesia.

Dok: BKIPM Jayapura Twitter
Dok: BKIPM Jayapura Twitter

Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan bahkan mendorong Kabupaten Mimika, Provinsi Papua agar dapat mengekspor kepiting ke berbagai daerah Indonesia dan ke sejumlah negara tetangga. Pada akhirnya, hampir setiap hari komoditas kepiting dari Timika diangkut ke Jakarta, Denpasar dan Surabaya, Malaysia hingga ke Australia.

Dari data Dinas Kelautan dan Perikanan Mimika, pengiriman kepiting dari Bandara Mozes Kilangin Timika ke Surabaya setiap hari sekitar 500 hingga 1.000 Kg. Adapun harganya sekitar 100-200 ribu/Kg (3-4 buah kepiting).

2. Sarang semut

Dok: Pribadi
Dok: Pribadi

Mungkin dalam pikiran teman-teman sarang semut adalah bangunan yang dibangun oleh kumpulan semut. Tapi ternyata eh ternyata, sarang semut adalah sejenis tanaman. Adapun sejarahnya yaitu karena tanaman ini menumpang pada tanaman lainnya (epifit) yang mana umbinya dihuni oleh semut. Sarang semut biasanya tumbuh pada dahan atau batang tumbuhan dan banyak ditemukan di Papua.

Segudang manfaat yang bisa diperoleh dari tanaman ini utamanya mengobati penyakit-penyakit maut seperti kanker, tumor, jantung, stroke, TBC. Tak hanya itu tanaman ini bisa meredakan penyakit ringan seperti wasir, sakit kepala sebelah, rematik, pegal linu, dan bisa meningkatkan gairah seksual.

Spesialnya juga, tanaman ini dipercaya bisa mengembalikan resistensi multi-obat dimana kandungan Flavonoid dalam tanaman ini bisamembantu tubuh terhindar dari resistensi / kebal terhadap obat-obat yang dikonsumsi.

Mengingat saat ini orang kembali mengandalkan obat-obatan dari alam karena efek sampingnya rendah, maka potensi bisnis ini menjanjikan. Namun sayangnya, belum banyak yang berani memasarkannya di pasar internasional. Saat ini hanya ada segelintir pengusaha saja yang berani mengekspornya sepertu di Singapura, Malaysia, Jerman, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat.

3. Kopi Amungme

Pada awalnya, kopi Amungme ini hanya dikhususkan bagi kalangan ekspatriat di kawasan Tembagapura, namun karena rasanya yang berbeda dengan kopi-kopi yang ada maka hal ini membuat masyakat ingin menikmatinya juga.

Amungme Gold kopi diproduksi di daerah dataran tinggi Mimika areal pertambangan PT Freeport Indonesia. Kopi Amungme ini ditanam di ketinggian 2.500 mdpl pada sejumlah kampung yaitu Kampung Oroanop, Tsinga, Hoya, dan Kampung Banti. Tanaman kopi dipupuk dengan tanaman bernitrogen serta material kompos dan multus hutan alami yang pada akhirnya membuat rasanya khas. Rasanya agak sedikit asam dengan rasa moka.

Berita Kopi Amungme Yang Tembus ke Luar Negeri
Berita Kopi Amungme Yang Tembus ke Luar Negeri

Kopi Amungme Gold mampu menembus pasar internasional karena sudah tersebar di beberapa negara terutama di Amerika Serikat. Gerai kopi internasional, Starbucks, bahkan mau mengadakan kerjasama tapi karena jumlahnya terbatas sehingga belum merata tersebar di gerainya secara merata.

Tak hanya itu, kopi ini sudah diakui oleh salah satu organisasi yang bergerak di bidang produksi makanan organik yaitu CERES karena cita rasanya berbeda dengan kopi-kopi yang pernah ada.

4. Buah Merah

Dok: Nulis.Co.Id
Dok: Nulis.Co.Id

Buah merah atau kuansu adalah buah yang tumbuh di wilayah Papua termasuk di Timika. Buah merah biasanya dikonsumsi dengan cara dimakan langsung atau dipotong-potong lalu direbus, dipanggang, atau dimasak dalam oven batu.

Dari hasil penelitian, buah ini dipercaya mampu mengobati penyakit termasuk penyakit yang hingga sekarang susah diobati dengan obat kimiawi. Hal inilah yang membuatnya diincar oleh negara-negara di dunia. Khasiatnya dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti penyakit HIV/AIDS.

Di mana tokoferol dan betakarotennya dapat berperan sebagai antioksidan guna meningkatkan kekebalan tubuh, kanker dan tumor di mana tokoferolnya dapat juga berperan sebagai antioksidan untuk kekebalan tubuh, penyakit stroke dan tekanan darah di mana kandungan tokoferal dapat mengencerkan darah dan membuat sirkulasi darah normal kembali, penyakit diabetes mellitus di mana kandungan tokoferol dapat membantu kerja pankreas sehingga fungsi pankreas dapat kembali normal, dan masih banyak lagi penyakit-penyakit yang dapat disembuhkan oleh buah kansu ini.

Selain menyembuhkan berbagai macam penyakit, buah merah ini juga diyakini dapat meningkatkan kesuburan karena kandungan vitamin E-nya yang sangat tinggi sehingga dapat membantu meningkatkan gairah serta vitalitas fisik sepanjang hari.

Karena kekayaan khasiatnya itulah banyak masyarakat mancanegara mengincar buah merah Papua ini yang lantas kerap digunakan untuk obat-obatan dan juga penelitian. Pengolahan buah ini banyak diekspor ke berbagai negara di kawasan Asia, Eropa, bahkan sampai Afrika

5. Noken

Noken. Dok:Pribadi
Noken. Dok:Pribadi

Noken adalah sejenis tas tradisional Papua yang terbuat dari kulit kayu atau serat kulit kayu pohon yang elastis dan kuat. Tas ini dibentuk dengan sistem anyam atau rajut. Bentuk rajutan Noken biasanya berbentuk jaring dan digunakan oleh masyarakat untuk membawa barang dengan mengaitkan tali ikatan Noken di kepala mereka, sedangkan barang bawaanya diletakkan di bagian belakang. Benda ini multifungsi karena bisa digunakan untuk mengangkut berbagai barang seperti ubi, sayur mayur, kayu, babi, menggendong anak.

Uniknya, tas ini mendapat pengakuan internasional dari UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia. Pada akhirnya masyarakat di belahan dunia meminati benda ini sehingga sudah ada beberapa pengusaha yang mengekspornya.

Dok:Pribadi
Dok:Pribadi

Saya memperhatikan bahwa penjualan hasil kerajinan tangan dari Mimika terutama tas noken dijual terbatas. Sulit menemukan penjualannya yang mempergunakan layanan E-Commerce dalam memasarkan produknya.

Coba saja deh, cari tas noken di internet, susah banget dapatnya. Berawal dari hal ini maka muncul ide untuk menggalakkan kegiatan bisnis memanfatkan situs E-Commerce dengan cara mengadopsi aplikasi atau numpang di Bukalapak, Tokopedia, dan OLX.

Tak hanya itu. dengan adanya layanan E-Business Dan E-Commerce maka akan mendorong tingkat perekonomian masyarakat, peningkatan penyerapan angkatan kerja,dan memberdayakan ekonomi masyararakat melalui pengembangan ekonomi berbasis industri kreatif.

 

sumber : klik  disini

 

DPRD dan Pemda Mimika Bahas Masalah Keuangan Daerah

Badan anggaran DPRD dan Tim Anggaran Pemda (TPAD) Mimika,  Senin (20/8) melakukan pertemuan membahas masalah1 keuangan daerah dan kemajuan perkembangan pembangunan di 2018.

Ketua DPRD Mimika, Elminus Mom mengatakan, sesuai informasi yang ia dapat bahwa keuangan daerah saat ini kosong. Untuk itu, DPRD dan5 badan anggaran melakukan pertemuan untuk menyamakan persepsi guna mencari solusi, apabila ada kendala yang terjadi di keuangan daerah.

“Karena ini membahas keuangan daerah, maka ketua tim anggaran Sekda Mimika, Bappeda, BKAD dan Dispenda kami hadirkan ke sini untuk menjelaskan masalah keuangan daerah dan bagaimana masalah hutang daerah,” kata Elminus Mom.

Sementara Anggota Komisi B DPRD Mimika, Viktor Kabey menuturkan,  DPRD Mimika berhak memanggil pemerintah daerah untuk melakukan rapat kerja maupun rapat koordinasi.

Kata dia, saat ini yang  dipanggil adalah Bupati Mimika, Eltinus Omaleng dengan Cq (dalam hal ini) TPAD. Karena rapat koordinasi ini menyangkut masalah anggaran, mulai dari LKPJ, APBD Perubahan, sampai kepada pelaksanaan anggaran di tahun berjalan.

“Kita mau klarifikasi terhadap anggaran-anggaran yang sudah ditetapkan dalam APBD, khususnya tahun anggaran 2018. Dimana, dari informasi yang ada bahwa adanya anggaran yang sudah ditetapkan dalam APBD 2018, tetapi tidak atau belum dibayarkan, misalnya pembayaran insentif honor guru,”jelasnya.

Ia menambahkan, rapat antara Badan Anggaran DPRD dan TPAD Mimika sangatlah penting, karena setiap perencanaan dan penetapan APBD sering mendapat teguran dari Pemprov Papua.

“Intinya, pertemuan tersebut membahas masalah anggaran. Dengan pertemuan ini diharapkan ada perbaikan kedepannya,” tuturnya.

Pada pertemuan antara Badan Anggaran DPRD dan TPAD Mimika dihadiri oleh separuh lebih anggota DPRD Mimika. Sementara dari TPAD hadir, Sekda Mimika Ausilius You, Kepala Bappeda, Sekretaris Dispenda, dan perwakilan Bagian Hukum Setda Mimika. Karena, dari BKAD belum datang, maka pertemuan ditunda pada Selasa (21/8).

sumber : klik disini

Dana Otsus Papua 2018 Mencapai Rp8 Triliun

 Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018, pemerintah mengalokasikan dana otonomi (otsus) khusus Papua mencapai Rp8,0 triliun. Rinciannya ialah dana otsus untuk Papua sebesar Rp5,6 triliun dan Papua Barat sebesar Rp2,4 triliun.

“Dari dana otsus dan dana keistimewaan DIY tahun anggaran 2018 sebesar Rp21,1 triliun, alokasi dana otsus Papua dan Papua Barat mencapai Rp8,0 triliun,” ujar Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Budiarso Teguh Widodo kepada Media Indonesia, Minggu, 21 Januari 2018.

Tidak sampai di situ, dana tambahan infrastruktur (DTI) dalam rangka otsus untuk Papua sebesar Rp2,4 triliun dan Papua Barat sebesar Rp1,6 triliun. Pemanfaatan dana otsus di Bumi Cendrawasih memiliki prioritas untuk pembiayaan, pendidikan dan kesehatan.

Adapun penggunaan dana DTI diarahkan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Mulai dari jalan, jembatan, dermaga hingga sarana transportasi darat, sunga dan laut.

“Melalui dana DTI, pemerintah berupaya mengatasi keterisolasian dan kesenjangan penyediaan infrastruktur antara Papua dan Papua Barat, serta dengan daerah lainnya,” jelas Budiarso.

Mengacu UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang dana otonomi khusus, alokasi dana otsus ditetapkan 2 persen dari total pagu dana alokasi khusus (DAU) nasional dalam APBN. Sebagai informasi, dana otsus Papua dan Papua Barat per 2016 tercatat Rp7,7 triliun, kemudian pada 2017 alokasi dana otsus Papua dan Papua Barat naik menjadi Rp7,9 triliun.

“Besaran alokasi anggaran dana otsus sangat tergantung dari besaran pagu DAU di APBN setiap tahunnya,” tutupnya

 

sumber : klik disini