Magister Keuangan Daerah Universitas Cenderawasih

Pasar Skouw termegah di Papua

Pasar Skouw termegah di Papua

Aktivitas pasar Skouw yang terletak di Distrik Muara Tami yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Papua Nugini terlihat lengang namun aktivitas pasar pada umumnya berjalan seperti biasa. Padahal hari ini adalah hari pasar.

Lapak-lapak para pedagang tersusun rapi tepatnya dibelakang bangunan pasar Skouw yang kini masih dalam proses pembangunan. Dari pantauan Jubi di lapangan, pembangunan pasar Skouw tersebut sudah mencapai 80 persen, dan tinggal penyelesaian.

Dari pengunjung pasar yang didominasi oleh masyarakat Papua Nugini yang datang untuk berbelanja berbagai jenis komoditas baik garmen, barang-barang elektronik maupun kebutuhan sehari-hari.

“Iya hari ini sepi pengunjung, mungkin karena cuaca lagi mendung jadi masyarakat dari sebelah (Papua Nugini) tidak banyak yang datang,” kata Aminah salah seorang pedagang sembako yang membuka lapak jualannya di samping pasar kepada Jubi, Kamis (6/9/2018).

Aktivitas yang sepi ini juga sedikit berdampak karena pasar Skouw saat ini masih dalam proses pembangunan sehingga para pedagang belum bisa menyediakan semua kebutuhan baik itu makanan maupun dagangan lainnya.

“Penjualan masih terbatas karena los yang kami dapat juga kecil,” ujar Aminah melanjutkan.

Lapak milik Aminah tersebut cukup kecil, sekitar 3 X 2 meter. Dengan ukuran itu, membuat para pembeli harus berdiri di luar lapak sambil memesan apa yang ingin dibelinya.

Aminah yang dibantu oleh saudaranya begitu sibuk melayani pembeli.

“Kadang repot juga karena losnya kecil dan yang datang berbelanja cukup banyak. Permintaan para pembeli juga macam-macam. Kadang ada yang membeli beras sampai lima karung dan mi instan 10 dos,” katanya.

Disinggung soal mata uang yang digunakan, Aminah mengatakan karena pengunjungnya kebanyakan dari Papua Nugini maka mata uang Kina yang lebih banyak digunakan dalam transaksi.

“Ada juga yang membeli dengan rupiah, tapi itu bisa dihitung dengan jari. Paling banyak dengan Kina,” ujarnya.

Pedagang lainnya, Abdul Bahar yang menjual pakaian bekas mengatakan, dirinya hanya datang berjualan di pasar Skouw pada saat hari pasar, karena dengan adanya hari pasar banyak pengunjung yang di dominasi dari negara tetangga.

“Pakaian ini saya datangkan dari Pasar Youtefa. Saya punya lapak di sana, nanti kalau ada hari pasar disini baru saya naik untuk berjualan disini,” katanya.

 

Ratusan miliar untuk kawasan PLBN

Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw di perbatasan RI-Papua Nugini (PNG) kini telah rampung, namun ada beberapa fasilitas pendukung lainnya hingga kini masih dalam proses pembangunan salah satunya adalah Pasar Skouw.

Area perbatasan antara Negara akan dijadikan sebagai sentra pertumbuhan ekonomi termasuk di wilayah Skouw-Wutung. Pasar Skouw sendiri memiliki 304 los kios.

Untuk total luas lahan pembangunan PLBN Skouw 12,20 hektar dengan total luas bangunan 9.921 m2 yang meliputi pasar dan area komersial seluas 3600 m2, fasilitas umum (rest area, ATM Center, Masjid, Gereja), fasilitas sosial (plaza dan ruang terbuka hijau, gedung serbaguna, foodcourt, parkir kendaraan), mess pegawai, wisma Indonesia dan pos TNI/POLRI.

“Total anggaran untuk pembangunan kawasan Skouw sekitar Rp246 miliar yang dikerjakan oleh kontraktor PT. Nindya Karya,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono belum lama ini di Jayapura.

Selain itu, pada kawasan perbatasan Skouw juga telah dibangun 50 unit rumah khusus bagi masyarakat perbatasan di Kampung Skouw, Distrik Muaratami. Unit rumah khusus dimaksud memiliki tipe 36 yang terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi dan 1 ruang tamu, yang dilengkapi dengan jalan lingkungan, air bersih, sanitasi, drainase dan listrik.

Sebelumnya, Gubernur terpilih Lukas Enembe mengatakan, pasar perbatasan yang berada di Skouw setiap tahun berhasil meraup Rp25,8 milliar nilai transaksi.

“Setiap tahun pasar yang 90 persen pembelinya adalah warga PNG meraup Rp25,8 miliar,” kata Gubernur Enembe. (*)

 

sumber : klik disini